« ..Amnesia dalam Mimpi?.. | Main | ..Tak akan Lekang.. »

..Satu Masa pada Beda Usia..

Tak...tik...tuk...Tak...tik...tuk...

Bunyi itu terus berulang, jarum detik purple watch di mejaku terus bergeser. Aku berusaha mempertahankan konsenterasiku mencari gambar. Satu detk...dua detik...satu menit...dua menit...HWAAAAAAA!!! Tidak untuk selanjutnya. Sebuah foto di mejaku mencuri perhatian. Mungkin juga pikiranku memang sedang melayang ke sana sejak tadi.

Foto itu...aku bersama beberapa rekan dari media-media di Surabaya (ditambah para tutor dari sebuah PR media). Ingatanku melayang pada kejadian lebih dari setahun yang lalu. Aku mengenal "Den" dari sebuah acara pelatihan jurnalistik. Dia tutorku. Segudang pengalaman di dunia media ada dalam kantuong-kantong kehidupannya (kurasa CV-nya terlalu panjang, hehehe...).

Dua hari pelatihan tidak membuatku mengenalnya, sama sekali. Cuma tahu nama, itu saja. Entah kenapa, di hari terakhir para tutor di Surabaya, ia menghubungiku. "Den" dan teman2 Jakartanya itu mau menikmati Surabaya sebelum esok pagi kembali ke ibukota. Bertanya padaku, "Kalau kami mau makan A, enaknya di mana? Kalau kami mau jalan-jalan, enaknya di mana?" (logat Timur "Den" terdengar sangat kental). Aku menjawab apa yang kuanggap MOST WANTED PLACE di Surabaya, lantas kemudian menawarkan diri untuk mengantar (ucapan terimakasih krn pelatihan 2 hari itu membuatku berilmu dan terhibur). Ia setuju.

Sejak itulah aku mengenal "Den" lebih dekat. Pria yang berusia hampir separuh baya itu ternyata orang yang menyenangkan. Dia tidak setua usianya, tapi juga tak lantas jadi sok muda. Fleksibel lah...Banyak pengalaman yang ia ceritakan dan membuatku jadi 'kaya'. Tak seperti kebanyakan orangtua, ia tak membiarkan aku diam dan hanya mendengarkan. So, aku pun bercerita. Ya, kami semua yg ikut ngopi di Kya-Kya bertukar cerita.

Hari-hari berikutnya, kami berkomunikasi melalui media yang ada. Ponsel dan internet tentunya. Aku menyadari, kami makin dekat, saling memosisikan diri sebagai sahabat. Masalah apa yang sedang terlintas kerap kami bahas dengan gaya berpikir masing-masing (ada gap pemikiran tentunya, mengingat selisih usia kami. usianya dua kali usiaku). Lebih sering kami mengupas habis masalah kerjaan, mungkin karena ini tema paling nyambung antara aku dan "Den". Tapi, kami open minded kok! Bisa saling menerima dan mengkritik pemikiran satu sama lain.

Beberapa kali kami sempat bertemu lagi. Dalam situasi berbeda dan rekan yang berbeda. Tetap menyenangkan. Kurasa karena kami membawa pribadi yang sesungguhnya, bukan kepura-puraan. Sungguh, aku sangat menghargai persahabatan yang kami punya.

Walau aku sadar, tak jarang orang akan mengernyitkan dahinya ketika mengetahui bahwa persahabatan kami sedikit mengkhayal. Lagi-lagi krn melihat usiaku yang separuh usianya. Kalau kami jalan, aku ini seperti anaknya. Pandangan umum pasti akan menyudutkan. Tapi, aku tidak terlalu peduli. Aku lebih menghargai apa yang kami miliki. Toh nyatanya memang tidak ada hal buruk (pun pengaruh buruk) dalam persahabatan ini, kenapa aku harus bingung dengan "kata" orang?

Aku selalu berprinsip bahwa ketika kita melakukan hal baik, kita nggak boleh takut. Judgement atau prejudice orang lain kan belum tentu sesuai ama yang sebenarnya terjadi. Jadi, kita nggak boleh takut ama judgement atau prejudice. Selama kita nggak aneh2, nggak macem2, Allah pasti bakal lebih berpihak ama kita. (to be continued)

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .